Hai!
Untuk post ku yang kedua, aku mau bahas sesuatu dalam bahasa Indonesia aja nih. Karena kalau pakai bahasa Inggris, rasanya kurang pas.
Kalau dari title post nya, kira-kira dapet ga sih apa yang mau aku bahas?
Oke, aku kasih gambaran kejadiannya dulu deh ya. Jadi gini,
Pernah kejadian, aku lagi jalan di mall sama mama ku tercintah *muah muah*, kemudian kita ke T**nsm*rt. Pas lagi milih-milih barang, ada nih orang tua yang bareng anaknya. Anaknya ini masih kecil banget kemungkinan usia balita yang masih TK gitu deh. Kemudian percakapannya kurang lebih begini,
Anak : Mommy, Mommy, can I have that one?
Emaknye : Which one?
Anak : That one.
Emaknye : No (kurang lebih begitulah)
Anaknya : But I want that one (mulai lah ngerengek ngambek)
Emaknye : If you cry I won't blablabla
Liat gak inti yang mau aku sampaikan?
Percakapan ini terjadi antara seorang ibu dan anaknya yang masih balita (kebetulan yang ngomong pihak ibu dan anaknya aja). Ibu nya ini orang Indo, ya memang keturunan Tiongkok, but the point is, emaknya bukan golongan bule pale (ngerti kan ye?), anaknya juga ga ada bau-bau kebulean, jadi sepertinya sih anak nya ori keturunan Indonesia.
Dan ini ga kejadian cuma sekali. Sering banget kalau lagi ke mall, ketemu sama anak dan orang tua yang percakapannya seperti itu. Tidak ada bahasa Indonesia nya sama sekali. Kalau orang tuanya ada berbau-bau kebulean, oke diriku mengerti lah. Ini orang tuanya ori cuy. Agak bingung kadang disitu. Pantes aja bahasa Indonesia lama-kelamaan mulai memudar. Lebih sering pakai bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari. Aku bicara seperti ini bukan karena tidak menghargai bahasa asing, I love learning other languange kok. Tapi begini loh bapak-bapak, ibu-ibu, mba-mba, mas-mas.
Ini Indonesia, kenapa dari kecil anak masih balita dijejelin bahasa asing yang bukan bahasa daerahnya sendiri? Kalau menurutku, utamakan dulu penggunaan bahasa Indonesia, sesekali disempilin bahasa lain gapapa. Seperti bahasa Inggris, Chinese, Jawa, Sunda, sekarepe ndewe lah. Kadang kalau aku dengar percakapan seperti ibu dan anak tadi, panggil saja keluarga pinus, aku suka merasa miris. Kenapa?
Bisa dibilang aku ini pecinta bahasa, atau bahasa kerennya literature. Aku suka kok belajar bahasa asing, tapi aku juga suka belajar bahasa sendiri. Seperti imbuhan, kata EYD, kata dasar yang memang sesuai KBBi, dan sebagainya. Kenapa? Aku gak mau jadi orang yang bisa bahasa asing, tapi bahasa daerah sendiri malah berantakan. This is truely my personal opinion, tapi aku suka merasa miris. Memangnya bahasa asli kita ini jelek? Ya, bahasa Indonesia memang bukan bahasa international. Tidak seperti bahasa Inggris atau bahasa Mandarin. Tapi apakah itu mengartikan kalau sejak balita mereka jadi diajarkan bahasa yang bukan bahasa tanah air mereka?
Tapi sulit juga, karena kebanayakan acara untuk anak-anak sekarang, ada nya dari luar. Apa lagi dengan adanya internet, banyak anak-anak yang menyaksikan acara kartun luar negeri yang berbahasakan inggris, bahkan kadang tanpa subtitle bahasa Indonesia. Harapan saya, ketika nanti saya punya anak, ya saya akan ajari bahasa asing. Kalau bisa malah bahasa derah, tapi saya bisa bahasa Jawa pun ya begitu-begitu doang. Tapi saya akan utamakan memakai bahasa Indonesia. Kalau pun nanti pasangan hidup saya orang yang non-Indoneisan, saya akan coba selang-seling. Tergantung juga nanti saya tinggal dimana, kalau saya tidak tinggal di Indonesia lagi, sulit juga kalau saya paksakan bahasa Indoensia jadi bahasa sehari-hari ke anak saya. But you get the point lah ya?
Tuh kan, dari ngomongnya pakai "aku" tiba-tiba jadi"saya". Biasa kalau udah keseruan berpendapat, jadi formal sendiri ini mulut😂
Oke, sekian kebawelan ku hari ini. Terima kasih yang sudah baca. Mungkin kalian mau kasih opini kalian mengenai hal ini? Silahakan banget tulis di komen nya, tapi ingat harus sopan ya!
Love,
Miss Kaktus

No comments:
Post a Comment